LAHEWA – NIAS UTARA

Posted in Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

Gumbu “Wamati”,

Mata Air Jernih  yang Tidak Pernah Kering di Kota Lahewa

oleh Yulinius Hulu

Anda pernah ke Lahewa? Lahewa adalah sebuah ibu Kota Kecamatan yang terletak diujung paling Utara Pulau Nias sejauh 80 km dari kota Kabupaten Nias, Gunungsitoli. Kecamatan ini merupakan salah satu kota kecamatan yang terkemuka dan ramai untuk ukuranPulau Nias. Ada yang unik di kota kecamatan ini yaitu tempat pemandian umumnya yang terletak tidak jauh dari Gereja BNKP, atau sekitar setengah kilometer dari kantor kecamatan.

Mungkin kalau anda adalah orang Lahewa dan bermukim disekitar kota Lahewa anda pasti pernah atau sering mandi ditempat ini. Atau kalau anda bukan orang Lahewa dan ada kesempatan berkunjung ke Lahewa, jangan lewatkan mandi ditempat ini. Nama pemandian ini adalah Gumbu, begitulah masyarakat kota Lahewa menyebutkannya.

Dibangun pada zaman pemerintah Belanda tepatnya tgl, 21 Januari 1933 Oleh F.Poluan. Jernih dan tidak pernah kering seakan tidak pernah bosan dan lelahnya memberikan airnya bagi siapa saja yang datang ditempat ini, entah itu mandi, cuci, bahkan sekedar buang hajat sekalipun.

Kala pagi hari dan sore hari tempat ini dipenuhi oleh anak-anak sekolah, pegawai serta orang yang akan beraktifitas sepanjang hari, dan mengakhri aktifitas disiang atau sore harinya, maklum inilah satu-satunya pemandian umum yang masih tersedia sampai saat ini di kecamatan Lahewa. Memang dulu ada satu lagi tempat pemandian umum di dekat pasar Lahewa yaitu HELE, terletak di belakang Puskesmas Lahewa namun pemandian ini sudah tidak ada lagi, hancur akibat gempa yang melanda Nias beberapa tahun yang lalu.

GUMBU, begitulah orang-orang Lahewa menyebutkan tempat pemandian ini. Gumbu dalam bahasa Nias artinya mata air, nah yang uniknya Gumbu di Lahewa ini antara tempat pemandian Laki-laki dan Perempuan nyaris tidak ada penyekat pemisah dan benar-benar terbuka sama sekali. Ehm…. Jangan heran kalau disini banyak terlihat cewek-cewek hanya berbalut sarung sampai sebatas dada, dan laki-laki bercelana pendek campur baur mandi disini. Satu-satunya penyekat adalah bak mandinya yang tidak lebih dari semeter tingginya. Sebelah kanan adalah tempat mandi untuk perempuan dan sebelah kirinya adalah tempat mandi untuk laki-laki.

Tidak ada seorangpun yang tahu kenapa tempat mandi ini begitu terbuka, malah sebelum ada bak mandi (ini baru dibangun oleh gereja BNKP sekitar tahun 1980), dimana dulunya hanya ada satu pancuran (hele) air yang keluar dari kaki pegunungan. Dan bila mandi baik laki-laki dan perempuan saling bergantian atau antri untuk mandi dan mengambil air.

Bak mandi ini dibangun oleh gereja BNKP Lahewa, waktu ada sidang SINODE BNKP diadakan dikecamatan Lahewa, karena ada tamu-tamu yang berdatangan dari seluruh kecamatan di Nias terutama Hamba-hamba Tuhan yang datang dari seluruh gereja BNKP dan dinilai kurangnya kapasitas pada waktu itu, makanya BNKP Lahewa berinisiatif membangun bak mandi yang panjangnya tidak lebih dari 6 meter dan lebarnya tidak lebih dari 1,5 meter. Bak mandi inilah yang merupakan pemisah antara tempat mandi laki-laki dan perempuan.

Kalau kita melihat kebiasaan di Nias, ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaan yang dianut masyarakat, dimana antara perempuan dan laki-laki jangankan untuk bergandengan tangan, untuk ber-iringan berjalan saja kalau bukan suami istri atau saudara hal yang tabu di Nias, juga termasuk di Lahewa. Apalagi kalau hal ini dilakukan oleh muda-mudi, siap-siap saja untuk digosipkan yang tidak-tidak.

Setelah gempa dan hadirnya NGO di Lahewa, tempat pemandian ini memang sudah dilengkapi dengan atap, dan beberapa kamar kecil (toilet). Namun penyekat antara pemandian laki-laki dan perempuan tidak dibuatkan oleh NGO, mungkin pikirnya biarin sajalah sudah kebiasaan masyarakat disini, atau jangan-jangan NGO ingin cuci mata juga barangkali… 🙂 🙂

GUMBU, nyaris tidak ada perubahan pada kebiasaan mandinya, tidak mempunyai penyekat antara tempat mandi laki-laki dan perempuan, semuanya sama seperti yang dulu-dulu masih bisa mandi sama-sama antara laki-laki dan perempuan.

GUMBU, bila kemarau tiba tetap mengalirkan airnya, orang-orang dari berbagai penjuru kota Lahewa datang mengambil airnya, maklum di Desa sekitar Lahewa masih jauh dari jangkauan PDAM, sumur bor ala Sanyo apalagi Jet Pump masih terbilang mahal dan langka disini. Bahkan di Pasar Lahewa sendiri bisa dihitung jari rumah tangga yang memakai sumur bor, kebanyakan mengandalkan PDAM yang sekarang banyak macetnya daripada berfungsinya.

Tapi satu hal yang perlu dicatat di tempat pemandian ini nyaris tidak pernah terdengar perbuatan-perbuatan asusila, mungkin karena komunitas yang mandi kebanyakan /hampir kenal satu sama lain, atau mungkin karena kuatnya iman orang-orang Lahewa, atau harus iman (terpaksa/dipaksa) kuat bila mandi disini, sehingga tempat pemandian ini juga sering disebut GUMBU WAMATI, dan mungkin salah satu pertimbangan NGO tidak membuat penyekat karena namanya saja GUMBU WAMATI.

“Aine talau mondri ba Gumbu. He ono alawe ba ono matua, he iraono ba satua.” Ba hiza taha dödöu faböi adudu Wamatiu!

Nias-island. com – Jakarta, 26 September 2007

Disini sesuatu foto lagi, yang lebih baru:

“Gumbu wamati” – Kota Lahewa / Nias Utara  (AKS -2010)

Nias

Posted in Foto, Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

„Nias – Tempo doeloe“

ni-wi 35

Foto-Foto dari  Pulau Nias “tempo doeloe”

Kemungkinan generasi mudah zaman ini pasti ingin tahu, bagaimana cara hidup nenek-moyang  mereka tempo doeloe.  Tetapi kurang sekali dokumen-dokumen dari zaman itu.  Untunglah telah dibentuk projekt  MUSEUM PUSAKA NIAS, yang mengumpul sisa dari kebudayaan Nias asli.

Tidak ada banyak foto-foto dari Nias dahulukala.  Sedikit saja tamu-tamu dan Ethnolog  yang berkunjung di pulau Nias di tahun 1900-1930 dan orangnya sudah pandai menustel foto-foto waktu itu. Tetapi kebudyaan dan cara  hidup ciri khas nono niha di kampung-kampung masih dapat disaksikan waktu itu.  Disini dapat dilihat satu  seri foto-foto yang ditustel oleh Dr. O. Hagerup, seorang doktor dan Ethnolog dari Danmark dan satu seri oleh Dr. Paul Wirz, seorang musafir Jerman yang berkunjung di Pulau Nias waktu zaman kolonial Belanda, sewaktu Indonesia masih bernama  “Nederlands Indie”                                                                                                                                                                                                                                                                     Nias 1915 von –  Dr. O.Hagerup –    und  Nias 1925 von –Dr. Paul Wirz