OH PADANG

Posted in Foto, Informasi, Komentar, Lagu Pop Indonesia on November 7, 2009 by klaussturm

Oh Padang… warta berita di hari-hari ini benarlah penuh dengan kabar dan foto yang mengecutkan, penuh dengan bukti duka dan kehancuran, akibat gempa tertiba di Padang Hari Rabu yg lewat (tgl. 30-09-2009) . Tanah-bumi Indonesia tidak mau tenang – Aceh 2004, Nias 2005, Jogyakarta 2006 – nama-nama  yg telah mengandung ingatan akan gempa bumi  yang cukup horror. Dan baru ini lagi  gempa di Padang dengan kekuatan 7,6 RS. Sudah cucup kan? Pada hal tidak! Beberapa seismologist ( ahli gempa bumi) yakin, bahwa gempa ini hanya berupa pra-gempa dari sesuatu Mega-gempa yg akan pasti terjadi di masa mendatang dan sudah pasti juga akan menimbulkan tsunami raksasa. Headline dari Harian Jerman BILD-Zeitung: “Bumi mengecutkan kita!”

Gempa dari tgl 30-09-2009   berpusat   kira-kira 80 km didalam dasar laut, syukurlah terlalu dalam di dasar laut untuk menimbulkan sesuatu tsunami. Tetapi tegangan tektonis dimuka pantai barat Sumatera akan dalam waktu yg tidak jauh melepaskan diri dalam gempa dan tsunami raksasa,  meneruskan seri gempa yg  kiranya serupa dengan kejadian di Aceh 2004. Begitu keyakinan ahli-ahli seismologia. Setiap  200 tahun akan terjadi seri gempa sedemikian. Sejarah geologi dari daerah pantai barat Sumatera dapat hal itu membuktikan. Kota Padang tak berdaya utk membela diri terhadap suatu tsunami yg tinggi gelombangnya bermeter: Letaknya kota Padang hanya satu/dua meter diatas permukaan laut!

Oh Padang…. Bagaimana masa depanmu? Bagaimana manusia dapat hidup dengan prediksi sedemikian? Padang, ibukota  Minangkabau, bangga dan termasyur karena keindahan letaknya di tepi pantai Samudera Hindia,  teriring oleh gunung-gunung Bukit Barisan, terkenal karena wanitanya  cantik dan tabah hati, kenamaan  karena dapurnya yg istimewa, terkenal karena pelabuhannya Teluk Bayur yg indah dan terjamin – dan Padang juga termasyur karena lagu-lagunya. Salah satu lagu yg terkenal di seluruh Indonesia adalah: “Selamat tinggal Teluk Bayur” dinyanikan oleh Ernie Djohan.

Dan hari ini saya telah bertemu di Harian “BILD” dengan foto ini …..

padang-bass-13571926-mfbq,templateId=renderScaled,property=Bild,height=349

….  seorang anak muda  yg duduk tertinggal di tengah halaman kampungnya yg kehancuran, tangannya memegang gitarnya  –  melihat foto ini dikena sekali hati saya…. lagu apa yg mau dinyanyikan? Apakah mulut masih bisa bersuara, kalau hati sudah tertumpul oleh rasa kesedihan yg putus asa? Memang kadang- kadang terjadinya begitu. Tetapi itu pengalaman manusia juga, bahwa sedang menyanyikan lagu manusia dialaminya daya yg mempesona – trauma bisa sembuh! Rasa duka yang bisu diberi nama dan kesedihan  diolah menjadi nada yang dapat didengar, memungkinkan pengertian dan rasa simpati.

Teringat kepada saya lagu pop Indonesia yg lama asalnya thn 60an – memang agar sentimental sekali – suatu lagu  yg diciptakan oleh pahitnya perantauan dan kerinduan akan halaman kampung dan akan masa yg telah kehilangan: “Oh ibuku, hatiku pilu seorang diri”  dinyanyikan oleh Titiek Sandhora.

Iklan

LAGU NIAS – NOSTALGIA

Posted in Informasi, Lagu Nias, Musik, YouTube on November 7, 2009 by klaussturm
"The Teluk-Dalam Beach-Boys" (1970)
“The Teluk-Dalam Beach-Boys” (di Lahewa 1970)

Lagu-lagu, penyanyi dan pemain-pemain gitar yang bermutu terdapat di Nias sudah jauh sebelum tahun 1970 – benar orang Nias bersemangat sekali untuk bernyanyi. Kita terharum mendengar lagu TANÖ NIHA, the inofficial Hymne of Nias. Mengingat juga tradisi Koor di gereja ataupun  tradisi tarian MAENA kalau ada pesta di desa-desa. Terkenal juga misalnya waktu itu kelompok musisi seperti Band “SIRAO” yang populer sekitar G.Sitoli. Adapun waktu itu pencipta dan pengarang lagu-lagu populer seperti dari Nias-Selatan  Ama Ferry Dakhi (alm) dan Pak Bamböwo Laiya, Pak Yas. Harefa  dll. Tetapi baru sejak tahun 1969 terdapat di Nias kelompok-Musik, yang naik panggung dengan alat-band elektronis seperti sudah biasa di kota-kota Indonesia lain.

Mengapa begitu? Salah satu alasan ialah bahwa waktu itu  thn 1970 sama sekali tidak ada persediaan elektricity di pulau Nias- terkecuali di ibukota Gunung-Sitoli, di toko-toko besar atau perusahaan  . Alasan kedua ialah  Musik-Pop Indonesia yg perkembangannya dan siarannya melalui Radio sekitar tahun 1970 juga sampai di pulau Nias dan memperkenalkan lagu-lagu dari kelompok Musik-Pop seperti misalnya  KOES-PLUS – the “Beatles of Indonesia”.   Memang juga dikenal dan disayangi lagu-lagu oleh Beatles, Rolling Stones, Deep Purple dan lain-lain Heroes of Rock & Pop internasional. Tetapi KOES-PLUS bernyanyi dalam bahasa Indonesia! Itunyo!

Seperti THE BEATLES,  pun KOES-PLUS memakai alat  gitar yg diamplified secara elektonis serta keyboard ditambah drums.  Mereka nyanyi  perihal cinta, asmara dan kekecewaan kaum muda-mudi generasi tahun 70-an ff. Benar nadanya mengajak! Dalam jangka waktu beberapa tahun saja berkembang suatu budaya Musik-Pop ciri-khas Indonesia yang luarbiasa dan menampilkan Bands seperti  THE MERCY’S –  PANBERS –  D’LLOYDBIMBO&IJN dls dan Stars seperti  Charles HutagalungBob Tutupoli –  Tetty Kadi –  Emilia Contessa, Ernie Johan dl, yang masih dikenal sampai hari ini di seluruh Indonesia dan lagu-lagu  mereka masih dinyanyikan  di jaman sekarang.

Group Musik Pop-Nias pertama, yang memakai alat elektronis di panggung, adalah „The Teluk-Dalam Beachboys“  yang dibentuk tahun 1969 di Kota Teluk-Dalam/ Nias-Selatan. Mereka cover  setepat mungkin lagu-lagu Top dari Indonesia dan dunia internasional. Tetapi sudah waktu itu misalnya  dari Beatles–Hit „Obladi-Oblada“ telah menjadi lagu „Sökhi li ziliwi gowi“ . Di luar itu dipentaskan lagu-lagu populer  yang dinyanyikan di desa-desa  pulau Nias seperti „Katitira langi“ atau „Bowo madala“ dls. Tetapi sayangnya sama sekali tidak ada rekaman dari Band itu.

Lagu-lagu yang direkam atas kaset baru muncul di tahun 1973 dari Band SIMAENARIA LAHEWA, suatu Band yang terbentuk 1972 di kota Lahewa/Nias Utara. ( Info mengenai Simaenaria lihat: Link ini) Waktu itu mulai terjualnya di Nias recorder-kaset (Made in Japan) yang agak murah sedikit, sehingga rekaman-rekaman Band Simaenaria bisa terdengar di seluruh pulau Nias. Darisitu mulai perkembangan pesat oleh Musik-Pop-Nias: kelompok seperti MARDIANA, BATE’E BROTHERS dan berbagai group lain mengumumkan lagu-lagu mereka di kaset-kaset musik, yang direkam dengan teknik-rekamam yang sangat sederhana. Keistimewaan  adalah bahwa lagu-lagu itu merupai  ciptaan asli mereka sendiri dan bukan hanya lagu tercover asal dunia musik dari luar Nias.

Awal dekade tahun 1980-an Musik-Pop-Nias telah mengalami suatu lompatan kwalitatip, dimana pemusik-pemusik Nias di Jakarta merekam lagu-lagu mereka di studio professional seperti AVORE NIAS atau  TRIO TRIVALI . Sejak itu terus menerus muncul produksi  Musik-Pop-Nias yang sampai hari ini disiarkan melalui kaset, CD atau Internet.

Tetapi semua kelompok musik dari tahun 70-an yang lagu-lagunya hanya terekam di pulau Nias atas kaset-kaset biasa, telah dilanda problema iklim tropis: kaset-kaset sudah berkarat dan tidak dapat diputar lagi, sehingga dokumen musik tsb kiranya tidak terdapat lagi di Nias. Hal ini sangat disesalkan  oleh  semua fan-fan musik Pop-Nias tempo dulu. Karena itu halaman blog ini: Musik-Pop-Nias dari tahun 1970-an dari tiga kaset yang masih terdapat di mediatek kami. Sayangnya di dua kaset nama Band dan pencipta tidak tercatat.  Biarpun begitu: Lagu-Nias – Nostalgia. Here we are!

BAND SIMAENARIA LAHEWA

Posted in Informasi, Lagu Nias, Musik on November 7, 2009 by klaussturm

kopie_von_sim_1973

Band Simaenaria Lahewa

Link diatas memberi  info-info, lagu-lagu dan foto-foto dari Band Simaenaria, yang pada masa   thn 1972-1976  kelompok musik yang paling populer di Pulau Nias. Karena dari album-album yang  direkam dulu hanya  beberapa kaset original tertinggal di tangan kami, biar melalui situs ini diberikan kesempatan untuk didengar kembali lagu-lagu tempo dulu.  Berbagai lagu dari Band tsb bisa juga didengar di portal YOUTUBE  a.n. peserta “klaus sturm“…..

LAHEWA – NIAS UTARA

Posted in Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

Gumbu “Wamati”,

Mata Air Jernih  yang Tidak Pernah Kering di Kota Lahewa

oleh Yulinius Hulu

Anda pernah ke Lahewa? Lahewa adalah sebuah ibu Kota Kecamatan yang terletak diujung paling Utara Pulau Nias sejauh 80 km dari kota Kabupaten Nias, Gunungsitoli. Kecamatan ini merupakan salah satu kota kecamatan yang terkemuka dan ramai untuk ukuranPulau Nias. Ada yang unik di kota kecamatan ini yaitu tempat pemandian umumnya yang terletak tidak jauh dari Gereja BNKP, atau sekitar setengah kilometer dari kantor kecamatan.

Mungkin kalau anda adalah orang Lahewa dan bermukim disekitar kota Lahewa anda pasti pernah atau sering mandi ditempat ini. Atau kalau anda bukan orang Lahewa dan ada kesempatan berkunjung ke Lahewa, jangan lewatkan mandi ditempat ini. Nama pemandian ini adalah Gumbu, begitulah masyarakat kota Lahewa menyebutkannya.

Dibangun pada zaman pemerintah Belanda tepatnya tgl, 21 Januari 1933 Oleh F.Poluan. Jernih dan tidak pernah kering seakan tidak pernah bosan dan lelahnya memberikan airnya bagi siapa saja yang datang ditempat ini, entah itu mandi, cuci, bahkan sekedar buang hajat sekalipun.

Kala pagi hari dan sore hari tempat ini dipenuhi oleh anak-anak sekolah, pegawai serta orang yang akan beraktifitas sepanjang hari, dan mengakhri aktifitas disiang atau sore harinya, maklum inilah satu-satunya pemandian umum yang masih tersedia sampai saat ini di kecamatan Lahewa. Memang dulu ada satu lagi tempat pemandian umum di dekat pasar Lahewa yaitu HELE, terletak di belakang Puskesmas Lahewa namun pemandian ini sudah tidak ada lagi, hancur akibat gempa yang melanda Nias beberapa tahun yang lalu.

GUMBU, begitulah orang-orang Lahewa menyebutkan tempat pemandian ini. Gumbu dalam bahasa Nias artinya mata air, nah yang uniknya Gumbu di Lahewa ini antara tempat pemandian Laki-laki dan Perempuan nyaris tidak ada penyekat pemisah dan benar-benar terbuka sama sekali. Ehm…. Jangan heran kalau disini banyak terlihat cewek-cewek hanya berbalut sarung sampai sebatas dada, dan laki-laki bercelana pendek campur baur mandi disini. Satu-satunya penyekat adalah bak mandinya yang tidak lebih dari semeter tingginya. Sebelah kanan adalah tempat mandi untuk perempuan dan sebelah kirinya adalah tempat mandi untuk laki-laki.

Tidak ada seorangpun yang tahu kenapa tempat mandi ini begitu terbuka, malah sebelum ada bak mandi (ini baru dibangun oleh gereja BNKP sekitar tahun 1980), dimana dulunya hanya ada satu pancuran (hele) air yang keluar dari kaki pegunungan. Dan bila mandi baik laki-laki dan perempuan saling bergantian atau antri untuk mandi dan mengambil air.

Bak mandi ini dibangun oleh gereja BNKP Lahewa, waktu ada sidang SINODE BNKP diadakan dikecamatan Lahewa, karena ada tamu-tamu yang berdatangan dari seluruh kecamatan di Nias terutama Hamba-hamba Tuhan yang datang dari seluruh gereja BNKP dan dinilai kurangnya kapasitas pada waktu itu, makanya BNKP Lahewa berinisiatif membangun bak mandi yang panjangnya tidak lebih dari 6 meter dan lebarnya tidak lebih dari 1,5 meter. Bak mandi inilah yang merupakan pemisah antara tempat mandi laki-laki dan perempuan.

Kalau kita melihat kebiasaan di Nias, ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaan yang dianut masyarakat, dimana antara perempuan dan laki-laki jangankan untuk bergandengan tangan, untuk ber-iringan berjalan saja kalau bukan suami istri atau saudara hal yang tabu di Nias, juga termasuk di Lahewa. Apalagi kalau hal ini dilakukan oleh muda-mudi, siap-siap saja untuk digosipkan yang tidak-tidak.

Setelah gempa dan hadirnya NGO di Lahewa, tempat pemandian ini memang sudah dilengkapi dengan atap, dan beberapa kamar kecil (toilet). Namun penyekat antara pemandian laki-laki dan perempuan tidak dibuatkan oleh NGO, mungkin pikirnya biarin sajalah sudah kebiasaan masyarakat disini, atau jangan-jangan NGO ingin cuci mata juga barangkali… 🙂 🙂

GUMBU, nyaris tidak ada perubahan pada kebiasaan mandinya, tidak mempunyai penyekat antara tempat mandi laki-laki dan perempuan, semuanya sama seperti yang dulu-dulu masih bisa mandi sama-sama antara laki-laki dan perempuan.

GUMBU, bila kemarau tiba tetap mengalirkan airnya, orang-orang dari berbagai penjuru kota Lahewa datang mengambil airnya, maklum di Desa sekitar Lahewa masih jauh dari jangkauan PDAM, sumur bor ala Sanyo apalagi Jet Pump masih terbilang mahal dan langka disini. Bahkan di Pasar Lahewa sendiri bisa dihitung jari rumah tangga yang memakai sumur bor, kebanyakan mengandalkan PDAM yang sekarang banyak macetnya daripada berfungsinya.

Tapi satu hal yang perlu dicatat di tempat pemandian ini nyaris tidak pernah terdengar perbuatan-perbuatan asusila, mungkin karena komunitas yang mandi kebanyakan /hampir kenal satu sama lain, atau mungkin karena kuatnya iman orang-orang Lahewa, atau harus iman (terpaksa/dipaksa) kuat bila mandi disini, sehingga tempat pemandian ini juga sering disebut GUMBU WAMATI, dan mungkin salah satu pertimbangan NGO tidak membuat penyekat karena namanya saja GUMBU WAMATI.

“Aine talau mondri ba Gumbu. He ono alawe ba ono matua, he iraono ba satua.” Ba hiza taha dödöu faböi adudu Wamatiu!

Nias-island. com – Jakarta, 26 September 2007

Disini sesuatu foto lagi, yang lebih baru:

“Gumbu wamati” – Kota Lahewa / Nias Utara  (AKS -2010)

Nias

Posted in Foto, Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

„Nias – Tempo doeloe“

ni-wi 35

Foto- Foto dari  Pulau Nias “tempo doeloe”

Kemungkinan generasi mudah zaman ini pasti ingin tahu, bagaimana cara hidup nenek-moyang  mereka tempo doeloe.  Tetapi kurang sekali dokumen-dokumen dari zaman itu.  Untunglah telah dibentuk projekt  MUSEUM PUSAKA NIAS, yang mengumpul sisa dari kebudayaan Nias asli.   Tidak ada banyak foto-foto dari Nias dahulukala.  Sedikit saja tamu-tamu dan Ethnolog  yang berkunjung di pulau Nias di tahun 1900-1930 dan orangnya sudah pandai menustel foto-foto waktu itu. Tetapi kebudyaan dan cara  hidup ciri khas nono niha di kampung-kampung masih dapat disaksikan waktu itu.  Disini dapat dilihat satu  seri foto-foto yang ditustel oleh Dr. O. Hagerup, seorang doktor dan Ethnolog dari Danmark dan satu seri oleh Dr. Paul Wirz, seorang musafir Jerman yang berkunjung di Pulau Nias waktu zaman kolonial Belanda, sewaktu Indonesia masih bernama Oostindie.

Nias 1915 von –  Dr. O.Hagerup

ni-wi 12

Nias 1925 von  –  Dr. Paul Wirz