Archive for the Komentar Category

Ketoprak yang Tidak Lagi Lucu

Posted in Informasi, Komentar, Sejarah on Desember 1, 2012 by klaussturm

Waktu kunjungan terachir di Indonesia bulan Oktober 2012, saya sempat membaca sesuatu komentar di HARIAN KOMPAS, yang terus menarik perhatian saya. (Artikel tsb dapat dibaca dibawah.) Si pengarang adalah P.Frans Magnis-Suseno SJ, Pastor dan Professor (em.) dari Universitas Driyarkara di Jakarta, guru besar filsafat dan akhli budaya Jawa. Karangannya berkisar perihal peristiwa-peristiwa di tahun 1965/1966 yang dikenal antara kita dibawah perpendekan G-30-S/PKI“. ( Lihat di Wikipedia)

35490_252786791511153_1837723080_nKarangan tsb adalah sesuatu reaksi atas diskusi mengenai peristiwa tsb dan membuktikan, bahwa Indonesia sedang mulai mengingat, menyadari dan bertanya mengenai kebenaran terdirinya jaman „Orde Baru“ Presiden Suharto yang sebetulnya mulai dengan pembunuhan massal/pembantaian dan aksi-aksi pidana terhadap jutaan warga negara Indonesia . Kejadian itu seakan-akan menlanggar keras  HAM dan menuntut sebenarnya diadili. Sekurang-kurangnya diumumkan fakta2 tsb secara terus-terang di panggung politik. ( Mungkin diskusi berlatar-belakang  karena munjulnya sesuatu filem yang sejak bulan September 2012 – dapat ditoton juga di Indonesia. Judulnya: „Jagal“ (The Act of Killing)

HARIAN KOMPAS, SABTU, 6 OKTOBER 2012

Ketoprak yang Tidak Lagi Lucu

 Oleh FRANZ MAGNIS-SUSENO SJ

 Menurut para ahli, jumlah orang “PKI” dan “terlibat” yang dibunuh pada Oktober 1965 s/d Februari 1966 minimal setengah juta dan maksimal 3 juta orang. Angka terakhir disebut oleh Sarwo Edhie, Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat yang berperan menumpas PKI kala itu.Kalaupun kita mengasumsikan angka korban terkecil (500.000 orang), pembunuhan itu masih termasuk empat pembantaian paling mengerikan yang pernah dilakukan umat manusia dalam bagian kedua abad ke-20. Yang pertama adalah kematian-kelaparan 30 juta orang atau lebih di China 1958-1961 akibat “kebijaksanaan” politik Mao Zedong. Kedua: pembunuh¬an 2 juta orang oleh rezim Pol Pot di Kamboja. Ketiga: pembunuhan 8OO.OOO orang Tutsi dalam aksi genosida di Rwanda.

Sempat muncul omongan pemerintah mau minta maaf. Namun, sekarang justru mereka yang dibunuh dan jutaan korban lain yang ditahan, disiksa, diperkosa, tanpa jelas apa kesalahan-nya, yang disuruh minta maaf lebih dahulu!

Peristiwa kelam

 Betul, saya sepakat bahwa komunisme adalah ideologi jahat dan PKI merupakan ancaman serius. Saya pun merasa lega ancaman PKI tidak ada lagi. Dalam peristiwa Madiun 1948 dikatakan bahwa para pemberontak yang dipimpin Muso membunuh sekitar 4.000 orang, banyak di antaranya ulama dan tokoh agama lokal. Bisa dimengerti bahwa ingatan terhadap peristiwa itu tidak padam. Jelas juga, saya mengalami dan turut merasakan, pada 1965 suasana begitu serius. Ada semacam perasaan “kami atau mereka”. Dalam udara, bau akan terjadi perang Bharatayudha begitu kuat. Semua itu menjadi latar belakang mengapa sesudah Gerakan 30 September bergerak, suatu pemecahan damai — yang didambakan Presiden Soekarno, jauh dari apa yang membara dalam masyarakat — sepertinya tidak mungkin.

 Mari kita urutkan lagi: Peris¬tiwa tahun 1948 korbannya 4.000 orang, kemudian antara 1948-1965 korban mati akibat keganasan PKI masih bisa dihitung dengan jari dua tangan, dan terakhir peristiwa 1965. Sepanjang 1965-1966 ada 500000 orang di¬bunuh, hampir 2 juta orang ditangkap (angka yang pernah disebutkan Sudomo, Panglima Ko-mando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) 1978-1988), dan ratusan ribu di¬tahan lebih dari 10 tahun tanpa pengadilan, sering dalam keadaan amat tidak manusiawi. Ini belum termasuk 10 juta orang yang distigmatisasi, dihancurkan identitasnya sebagai warga negara, dihina, dipersetan. Dan sekarang justru mereka yang harus mintak ma’af? Bagaimana itu?

 Perlu diperhatikan, pembu¬nuhan yang melibatkan masyarakat – biasanya ormas pemuda— terjadi tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga di Bali, Flores, Sumatera Utara, dan beberapa tempat lain. Artinya, pembunuhan itu bukan urusan satu golongan atau kelompok saja. Yang jelas, yang bertanggung jawab atas kejahatan itu adalah militer. Adalah tidak mungkin rakyat terlibat dalam pembunuhan tanpa mendapat petunjuk dan angin oleh militer.

Sekarang dikatakan bahwa pembunuhan dalam ukuran genosida itu perlu karena “kalau peristiwa itu tak terjadi, negara kita tak akan seperti sekarang”. Memang, pernyataan itu ada benarya. Tanpa Gerakan 30 September, Jenderal Soeharto tidak akan menjadi Presiden RI dan seluruh sistem Orde Baru tidak akan ada. Namun, mengatakan bahwa bangsa Indonesia hanya bisa selamat setelah membunuhi ratusan ribu warga dan mencelakakan puluhan juta lainnya, sungguh keterlaluan. Saya jadi ngeri. Siapa lagi yang lantas perlu dibunuh agar bangsa ini bisa lebih maju lagi?

 Omong kosong besar

 Tentu saja ada nonsense, omong kosong, besar dalam ucapan itu. Nonsense yang mudah dimengerti alasannya. Nonsense itu seenaknya mencampurkan tiga tahap pasca-G30S. Per¬tama, penumpasan pasukan yang terlibat dalam penculikan dalam pembunuhan di Jakarta dan Yogyakarta pada l Oktober 1965.Kedua, pembunuhan besar-besaran terhadap orang-orang PKI yang baru mulai tiga minggu kemudian di Jawa Tengah sesu¬dah Sarwo Edhie Wibowo sampai dengan pasukan RPKAD-nya.Tahap ketiga dimulai sesudah Soeharto pada 11 Maret mengambil alih kekuasaan dari Presiden Soekarno. Terjadilah penangkapan, penahanan dan penghancuran basis kehidupan besar-besaran (ingat fitnah kotor terhadap Gerwani) yang sepenuhnya terjadi pada Era Soeharto.

 Yang betul adalah, bahwa andaikata sesudah l Oktober 1965 PKI oleh militer dinyatakan, dibekukan, lalu semua kantor PKI ditutup/diduduki (sebagaimana memang terjadi), dan organisasi-organisasi yang dianggap berafiliasi dengan PKI dilarang, selesailah ancaman komunis. Tak perlu seorang pun dibunuh (kecuali yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 pantas dihukum sesuai peran mereka).

 Dengan mencampurkan tiga tahap di atas, seakan-akan kejahatan tahap kedua dan ketiga bisa dittutup-tutupi. Maka, yang kita saksikan sekarang bab ketoprak di pasar malam – tetapi tidak ada lucunya. Sungguh ini zaman edan, zaman kalabendu, dimana para korban disuruh minta ma’af hanya karena ingin sedikt keadilan.Tuhan ampunilah kita semua.

 FRANZ MAGNIS-SUSENO SJ

Guru Besar Emeritus STF Driyarkara

Nb. Buat generasi muda di Indonesia peristiwa tsb berupa sesuatu bab sejarah nasional, yang hanya dikenalinya secara pintas lalu, pun masih kurang suka dibicarakan, karena akibatnya masih dirasai sebagai ancaman kehidupan bersama. Dan memang masih sekarang ini – 15 tahun setelah kemunduran Suharto sebagai Presiden – ada rasa takut akan dilibatkan dengan PKI atau Komunisme. Dan memang sampai akhirat resim Suharto 1998 – kalau orangnya sudah dicap sebagai „ oknum terlibat “ otomatis terkenak diskriminasi sosial.

Mengenai hal itu saya ingin ceriterakan sesuatu pengalaman peribadi dulu: Bapak mertua (Alhm) kami, seorang warga negara Indonesia dari Lahewa, pulau Nias, waktu di tahun 1996 berencana untuk berkunjung kerumah kami di Jerman. Dan memang untuk perjalanan keluarnegeri diperlukannya sesuatu paspor. Tetapi dokumen tsb teringkar terus oleh pejabat Imigrasi di Sibolga dengan alasan, bahwa nama beliau terdapat di daftar orang yang „terlibat“ termasuk „Golongan C“. Bagaimana Bapak ini telah bisa “terlibat” dalam kejahatan „G-30S/PKI“??!

Waktu dulu di tahun 1953/1954 beliau selama setengah tahun  telah bekerja sebagai jurutulis di kantor buruh pelabuhan Lahewa dan secara otomatis menjadi anggota SOBSI, (Sentral Organisasi Buruh Se-Indonesia), yang kemudian hari sebahagian beraffiliasi erat dengan PKI. Tetapi 40 tahun kemudian tercatatnya nama beliau di daftar anggota SOBSI tahun 1953 sekarang menjadi alasan utk menolak haknya sebagai warga negara Indonesia utk mendapat paspor! Aduh! Memang seandainya beliau waktu itu bersedia utk membayar uang sogok sekian banyak … pasti ada jalan …. Tetapi beliau tidak mau dengan demikian…

Satu Tahun kemudian, 1997, beliau telah meninggal dengan tiba-tiba tanpa pernah dikunjungi anaknya dan cucunya di Jerman. Pun sayang tidak dialaminya lagi akhirat era Suharto dan akhirat daripada diskriminasi sosial atas cap „terlibat G-30/S“.  (KS)

Iklan

Om Carl dan Pesawat “Seulawah”

Posted in Informasi, Komentar, Sejarah on Januari 18, 2011 by klaussturm

Suatu renungan mengenai seorang pilot dan pesawatnya

Nama Seulawah dalam bahasa Aceh berarti „Gunung Emas“, nama gunung berapi yang terkenal di daerah Aceh di Sumatera. Berkenaan dengan  Dakota RI-001arti „Gunung Emas“ sangatlah tepat. Pada tahun 1948 Republik Indonesia yang masih muda sedang berjuang  mati-matian utk menghindari restaurasi  penjajahan kolonial Belanda. Di jaman yang begitu sulit, Presiden Sukarno berkunjung ke Kutaraja (sekarang Banda Aceh), Ibukota  Aceh, untuk minta bantuan rakyat Aceh agar dapat  membeli suatu pesawat terbang utk kepentingan pemerintahan guna mempererat hubungan antar daerah Republik Indonesia di Jawa dan Sumatera. Permintaan itu langsung  dikabulkan oleh pengemuka Aceh dan kemudian dikumpulkanlah suatu „Gunung emas“ beratnya 20 kg sebagai sumbangan  rakyat Aceh demi perjuangan Republik Indonesia. Nilai „Gunung emas“ – „Seulawah“ pada saat itu berkisar sekitar 120.000 Dollar Malaya.

Dengan emas, hadiah dari rakyat Aceh, itu pada bulan Oktober 1948 telah dibelikan di Singapura satu pesawat terbang merek  DC 3 „Dakota“ (C 47) yang terus bertugas untuk penerbangan antara Maguwo (Jogyakarta) dan Kutaraja(Aceh). Penerbangan yang bersejarah terjadi di bulan Nopember 1948 sewaktu Wapres Dr. M. Hatta berkunjung  di seluruh daerah-daerah Republik Indonesia  di Sumatra demi memperkokoh semangat nasional pembela-pembela kemerdekaan Republik Indonesia yang bertahan melawan serangan Belanda.

Tidak lama sesudah itu, tgl 6 Desember 1948, pesawat Seulawah terbang ke Kalkutta di India untuk rawatan teknis spesial yang  masa itu hanya dapat dilaksanakan di Kalkutta. Tetapi dimana pesawat sedang dalam perawatan, terjadilah peristiwa dramatis yg menghidari pulangnya pesawat tsb secara langsung ke Indonesia. Tgl 18 Desember 1948 pasukan Belanda dengan tiba-tiba   masuk wilayah Republik,  menyerang juga  kota Jogyakarta, menangkap Presiden Sukarno dan anggota pemerintahnya dan diasingkan ke pulau Bangka. Bandara induk Seulawah, Maguwo Jogyakarta, telah jatuh di tangan tentera Belanda,  Seulawah tidak bisa pulang!

Dalam situasi ini pimpinan AURI memutuskan untuk menerima usul pemerintah Burma, bahwa tempat pesawat Seulawah dapat dipindahkan dari Kalkutta ke bandara di Rangoon, ibukota  Burma. Tgl 20-Januari- 1949 Seulawah terbang kesana dan terdaftar dengan nomor registrasi RI-001 Seulawah sebagai pesawat pertama Indonesian Airways, perusahaan penerbangan sipil  Republik Indonesia. Dua tahun berikutnya pesawat itu dicharter pemerintah Burma sebagai carrier militer. Dari usaha tsb telah menghasilkan uang begitu banyak, sehingga Indonesia dapat membeli lagi dua buah pesawat  DC 3 yang terdaftar sebagai RI-007 dan RI-009. Pada akhir tahun 1949 Indonesian Airways menjadi Garuda Indonesian Airways. Sejarah ini dapat dibaca lebih mendetail di Internet: http://id.wikipedia.org/wiki/Garuda_Indonesia#Sejarah

Captain Carl Wiss „Flying the Hump“

Sekarang kita harus kembali mengingat Om Carl. Andaikata informasi yg kami dapat dari Mr. Jos Heyman bisa dipercaya, lihat situs http://www.cnac.org/wiss01.htm,  yang mengungkapkan berdasarkan arsip  AURI, bahwa salah satu pilot Seulawah adalah seorang Amerika yang bernama Carl Wiss. Dan dia tsb bisa diidentifikasikan sebagai anak paman kami. Dahulu kala nenek kami, Ibu Emily,  pernah menceritakan kepada kami, bahwa cucunya Carl di perang dunia kedua telah bertugas sebagai pilot angkatan udara Amerika (USAF) di China dan mengalami kecelakaan di matanya yg menyebabkan dia tidak diperbolehkan membawakan  pesawat terbang lagi. Informasi dari Ibu Emily mengenai riwayat hidup Om Carl sebenarnya kurang lengkap, lengkapnya baru terbuka setelah ditemukan oleh adik kami Thomas situs CNAC-ORG diatas.

Disitu dapat dilihat suatu foto  Carl Wiss di tahun 1944(?). Nampak  Om Carl dengan temannya Tommy Wong di sesuatu tempat di India  atau China. Keduanya adalah pilot dari CNAC (China National Aviation Corporation), sesuatu usaha penerbangan joint venture  USA (PanAm) dan China National (NC). Saat itu National China dibawah pimpinan Jenderal Chiang Kai Chek berperang  melawan Jepang sejak tahun 1937. NC dibantu USA berupa uang dan alat-alat perang. (http://www.cnac.org/index.html )

Sejak tahun 1942 Burma-Utara telah diserang oleh tentara Jepang – hubungan darat antara India dan China Selatan terputus  dan bantuan USA untuk tentara China National hanya bisa dilaksanakn lewat udara. Bandara Udara CNAC  untuk pesawat Type DC3 (C 46) bertempat di Assam/ India Utara dan para pilotnya harus membawakan pesawantnya dengan penerbangan yg sangat berbahaya lewat pegunungan raksasa Himalaya yang juga dinamakan „Atap bumi“ ke kota Kunming di China Selatan. Route penerbangan ini , juga disebut „The Hump“,  menuntut  para pilot suatu keberanian dan kepandaian yang luarbiasa dalam bidang penerbangan.  Ratusan crew  untuk itu telah kehilangan hidupnya dalam melaksanakan tugasnya. Memang mereka semua sukarelawan – kebanyakan pilot-pilot tamatan USAF – yang  tentu gajinya cukup tinggi  yg membuat mereka tidak jeri dengan risiko yang luarbiasa tersebut.

Om Carl termasuk di golongan ini sejak tahun 1944. Sesudah Jepang kapitulasi di bulan Agustus 1945 dan berakhirnya perang dunia ke2, Om Carl melanjutkan kontraknya di CNAC selama dua setengah tahun lagi. Sekarang operasinya di daerah China, dimana tentara National China berperang melawan Tentara komunis  Mao Tse Dong . Di awal tahun 1948 sudah banyaklah propinsi yang telah jatuh di tangan pasukan komunis. Kota Mukden – sekarang namanya Shenyang – di propinsi Manju telah lengkap dikepung oleh Tentara Merah. Ribuan orang  kaya minta diterbangkan keluar dari kota yg terkepung tsb ke Taiwan. Pada tgl 20-Januari-1948 di salah satu dari „Last minute flights“, beberapa menit sesudah start, pesawat DC 3- C46 dengan pilotnya Carl Wiss mengalami kecelakaan  berat. (http://www.cnac.org/wiss01.htm)

Catatan surat kabar New York Times  tgl 21-01-1948 memberitakan tentang kematian tiga penumpang dan banyak yang luka-luka, diantaranya seorang pilot Amerika bernama Carl Wiss yang luka di kepala dan mata. Sebab kecelakaan tidaklah jelas, hanya diketahui bahwa pesawat melakukan start dalam cuaca yang sangat buruk, saat itu turun angin salju dan pesawat membawa muatan yang melebihi batas kemampuan. Informasi ini sesuai dengan ceritera nenek kami Almarhumah Ibu Emily dahulu, yang disebutkan dalam  surat adiknya dari Amerika, bahwa alasan kelebihan muatan waktu itu disebabkan penumpang2 kaya membawa  hartabendanya berupa emas dan perhiasan secara tersembunyi dalam pakaian tebalnya, sehingga terjadilah kecelakaan. Di surat-surat kabar tidak ada pemberitaan mengenai alasan kecelakaan tsb.

Biar bagaimanapun, Om Carl bisa lepas selamat dari kecelakaan itu walau dalam keadaan luka2 tetapi kehilangan pekerjaannya di CNAC. Bagaimana kelanjutannya, apakah lukanya terawat dan dimana keberadaannya selama tahun 1948 tidaklah diketahui. Tetapi jika informasi dari Mr. Jos Heyman benar, awal 1949 Captain Carl Wiss telah bekerja kembali sebagai pilot Indonesian Airways di cockpit  pesawat  „Dakota Ri-001 Seulawah“.  Bandara induknya masih tetap Rangoon. Tugas pesawat waktu itu adalah penerbangan-charter di Burma dan mengangkut diantaranya bahan-bahan bantuan perjuangan revolusi ke Sumatera. Berapa lama kontrak Om Carl dengan Indonesian Airways berlangsung tidaklah juga diketahui – mungkin sampai tahun 1950, dimana Garuda mulai berdiri atas  usaha bersama Indonesian Airways dengan KLM- Belanda. Pilot-pilot ex-CNAC tersebut diperlukan karena waktu itu personil Indonesia belum ada yang memiliki izin utk menerbangkan pesawat setype DC-3. Teman-teman Om Carl, termasuk beliau sendiri, semuanya telah meninggal dunia dan kesaksiannya mengenai perjuangan kemerdekaan masa lalu tidaklah dapat ditanya lagi.

Pesawat Seulawah sebagai Monumen Sejarah

Seandainya bisa ditanyakan kepada mereka rakyat Aceh, mungkin dapat diketahui, apakah pesawat DC 3 yang dinampakkan sebagai monumen nasional di Banda Aceh sekarang ini, benar-benar pesawat Seulawah asli, atau pesawat DC 3 lain , yang dihadiahkan oleh AURI tahun 1984. Di Indonesia tahun 2011 ini ada dua pesawat yang bernama Seulawah – satu di Banda Aceh(lihat foto) dan yang kedua di Taman Mini Jakarta.

Untuk rakyat Aceh nama Seulawah bukan hal sampingan, melainkan  suatu simbol penting dan bukti  pengorbanan rakyat Aceh untuk kemerdekaan Indonesia, yang begitu lama menunjukkan kesetiaannya terhadap persatuan nasional. Para pemuka  Aceh sampai sekarang masih ingat akan janji Sukarno bulan juni 1948 dulu, dimana Sukarno telah menyetujui akan pengesahan syariat Islam untuk Aceh, janji  yang dikemudian hari dilupakannya.

„Khianat Sukarno“ itu yang memungkiri jasa rakyat Aceh dalam perjuangan kemerdekaan nasional melawan serangan Belanda, apa lagi dengan tidak diakuinya  status  Aceh sebagai propinsi ditahun 1953 itu yang kemudian menjadi latar belakang  keinginan gerakan separatis  di Aceh yang kemudian mengakibatkan berdirinya gerakan kemerdekaan  GAM ditahun 1967, perang saudara yg berdarah ini baru dapat berakhir paska Tsunami tahun 2005.  Selain itu memang banyak  alasan-alasan yang penting dan nyata: Pemerintah pusat Jakarta telah menyatakan  daerah Aceh yang  kaya menjadi daerah miskin, masyarakat Aceh merasa dihina dan dilukai perasaannya sehingga mendorong putera-putera Aceh untuk berontak.

Sekarang ini Aceh NAD sebagai propinsi Republik Indonesia yg memiliki  otonomi istimewa , sampai hari ini  masih menderita akibat musibah tsunami 2004. Bantuan internasional yang besar  telah membuat  Aceh yang terisolir, akibat perang saudara, kembali terbuka untuk dunia luar. Tetapi untuk melakukan kedaulatan otonominya,  Aceh menetapkan syariat Islam sebagai hukum yang berlaku di daerahnya. Teriring oleh harapan besar untuk kemajuan moril, syariat menimbulkan dimasyarakat dalam kehidupan sehari-hari  masalah2  yang tidak terduga. Tetapi hal-hal seperti itu Seulawah dan Om Carl tak perlu memikirkan lagi – Alhamdulillah!

K.S. 20-01-2011

Nb. Terima kasih kepada Mas Hari atas edisi dalam bahasa Indonesia. “Om Carl und die Seulawah” dalam bahasa Jerman dapat dibaca disini.

S.Laia: Merintih bersama kota Padang

Posted in Informasi, Komentar on November 10, 2009 by klaussturm

Posting berikut dikutip dari Blog Sdr. Sirus Laia, yang datang ke Padang dalam fungsi sebagai Perwakilan CARITAS Keuskupan Sibolga . Ini catatannya didalam blognya:

Tak pernah terbayangkan, bila suatu saat gempa yang akan membawa aku ke Padang. Hujan deras menyambut kedatanganku di Banda Minangkabau tgl 20 Oktober malam lalu. Ya mulai malam itu tugas baruku sebagai manajer program tanggap darurat bersama keluarga Caritas mulai. Aku harus memastikan bahwa target untuk membantu sebanyak 25.460 keluarga ditambah 4.000 orang penerima manfaat tercapai.

Malam itu hujan deras mendera bumi, tetapi juga mendera banyak orang yang tinggal sementara di tenda dan penampungan darurat. Hujan tsb. juga mendera banyak pasien rawat inap RS Yos Sudarso Padang, yang terpaksa dirawat di bawah tenda-tenda darurat. Tuhan, semoga Engkau menampakkan belaskasih-Mu!….silahkan baca terus: http://achida-laia.blogspot.com/2009/10/gempa-padang-dan-panggilan-hidup.html

OH PADANG

Posted in Foto, Informasi, Komentar, Lagu Pop Indonesia on November 7, 2009 by klaussturm

Oh Padang… warta berita di hari-hari ini benarlah penuh dengan kabar dan foto yang mengecutkan, penuh dengan bukti duka dan kehancuran, akibat gempa tertiba di Padang Hari Rabu yg lewat (tgl. 30-09-2009) . Tanah-bumi Indonesia tidak mau tenang – Aceh 2004, Nias 2005, Jogyakarta 2006 – nama-nama  yg telah mengandung ingatan akan gempa bumi  yang cukup horror. Dan baru ini lagi  gempa di Padang dengan kekuatan 7,6 RS. Sudah cucup kan? Pada hal tidak! Beberapa seismologist ( ahli gempa bumi) yakin, bahwa gempa ini hanya berupa pra-gempa dari sesuatu Mega-gempa yg akan pasti terjadi di masa mendatang dan sudah pasti juga akan menimbulkan tsunami raksasa. Headline dari Harian Jerman BILD-Zeitung: “Bumi mengecutkan kita!”

Gempa dari tgl 30-09-2009   berpusat   kira-kira 80 km didalam dasar laut, syukurlah terlalu dalam di dasar laut untuk menimbulkan sesuatu tsunami. Tetapi tegangan tektonis dimuka pantai barat Sumatera akan dalam waktu yg tidak jauh melepaskan diri dalam gempa dan tsunami raksasa,  meneruskan seri gempa yg  kiranya serupa dengan kejadian di Aceh 2004. Begitu keyakinan ahli-ahli seismologia. Setiap  200 tahun akan terjadi seri gempa sedemikian. Sejarah geologi dari daerah pantai barat Sumatera dapat hal itu membuktikan. Kota Padang tak berdaya utk membela diri terhadap suatu tsunami yg tinggi gelombangnya bermeter: Letaknya kota Padang hanya satu/dua meter diatas permukaan laut!

Oh Padang…. Bagaimana masa depanmu? Bagaimana manusia dapat hidup dengan prediksi sedemikian? Padang, ibukota  Minangkabau, bangga dan termasyur karena keindahan letaknya di tepi pantai Samudera Hindia,  teriring oleh gunung-gunung Bukit Barisan, terkenal karena wanitanya  cantik dan tabah hati, kenamaan  karena dapurnya yg istimewa, terkenal karena pelabuhannya Teluk Bayur yg indah dan terjamin – dan Padang juga termasyur karena lagu-lagunya. Salah satu lagu yg terkenal di seluruh Indonesia adalah: “Selamat tinggal Teluk Bayur” dinyanikan oleh Ernie Djohan.

Dan hari ini saya telah bertemu di Harian “BILD” dengan foto ini …..

padang-bass-13571926-mfbq,templateId=renderScaled,property=Bild,height=349

….  seorang anak muda  yg duduk tertinggal di tengah halaman kampungnya yg kehancuran, tangannya memegang gitarnya  –  melihat foto ini dikena sekali hati saya…. lagu apa yg mau dinyanyikan? Apakah mulut masih bisa bersuara, kalau hati sudah tertumpul oleh rasa kesedihan yg putus asa? Memang kadang- kadang terjadinya begitu. Tetapi itu pengalaman manusia juga, bahwa sedang menyanyikan lagu manusia dialaminya daya yg mempesona – trauma bisa sembuh! Rasa duka yang bisu diberi nama dan kesedihan  diolah menjadi nada yang dapat didengar, memungkinkan pengertian dan rasa simpati.

Teringat kepada saya lagu pop Indonesia yg lama asalnya thn 60an – memang agar sentimental sekali – suatu lagu  yg diciptakan oleh pahitnya perantauan dan kerinduan akan halaman kampung dan akan masa yg telah kehilangan: “Oh ibuku, hatiku pilu seorang diri”  dinyanyikan oleh Titiek Sandhora.

LAHEWA – NIAS UTARA

Posted in Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

Gumbu “Wamati”,

Mata Air Jernih  yang Tidak Pernah Kering di Kota Lahewa

oleh Yulinius Hulu

Anda pernah ke Lahewa? Lahewa adalah sebuah ibu Kota Kecamatan yang terletak diujung paling Utara Pulau Nias sejauh 80 km dari kota Kabupaten Nias, Gunungsitoli. Kecamatan ini merupakan salah satu kota kecamatan yang terkemuka dan ramai untuk ukuranPulau Nias. Ada yang unik di kota kecamatan ini yaitu tempat pemandian umumnya yang terletak tidak jauh dari Gereja BNKP, atau sekitar setengah kilometer dari kantor kecamatan.

Mungkin kalau anda adalah orang Lahewa dan bermukim disekitar kota Lahewa anda pasti pernah atau sering mandi ditempat ini. Atau kalau anda bukan orang Lahewa dan ada kesempatan berkunjung ke Lahewa, jangan lewatkan mandi ditempat ini. Nama pemandian ini adalah Gumbu, begitulah masyarakat kota Lahewa menyebutkannya.

Dibangun pada zaman pemerintah Belanda tepatnya tgl, 21 Januari 1933 Oleh F.Poluan. Jernih dan tidak pernah kering seakan tidak pernah bosan dan lelahnya memberikan airnya bagi siapa saja yang datang ditempat ini, entah itu mandi, cuci, bahkan sekedar buang hajat sekalipun.

Kala pagi hari dan sore hari tempat ini dipenuhi oleh anak-anak sekolah, pegawai serta orang yang akan beraktifitas sepanjang hari, dan mengakhri aktifitas disiang atau sore harinya, maklum inilah satu-satunya pemandian umum yang masih tersedia sampai saat ini di kecamatan Lahewa. Memang dulu ada satu lagi tempat pemandian umum di dekat pasar Lahewa yaitu HELE, terletak di belakang Puskesmas Lahewa namun pemandian ini sudah tidak ada lagi, hancur akibat gempa yang melanda Nias beberapa tahun yang lalu.

GUMBU, begitulah orang-orang Lahewa menyebutkan tempat pemandian ini. Gumbu dalam bahasa Nias artinya mata air, nah yang uniknya Gumbu di Lahewa ini antara tempat pemandian Laki-laki dan Perempuan nyaris tidak ada penyekat pemisah dan benar-benar terbuka sama sekali. Ehm…. Jangan heran kalau disini banyak terlihat cewek-cewek hanya berbalut sarung sampai sebatas dada, dan laki-laki bercelana pendek campur baur mandi disini. Satu-satunya penyekat adalah bak mandinya yang tidak lebih dari semeter tingginya. Sebelah kanan adalah tempat mandi untuk perempuan dan sebelah kirinya adalah tempat mandi untuk laki-laki.

Tidak ada seorangpun yang tahu kenapa tempat mandi ini begitu terbuka, malah sebelum ada bak mandi (ini baru dibangun oleh gereja BNKP sekitar tahun 1980), dimana dulunya hanya ada satu pancuran (hele) air yang keluar dari kaki pegunungan. Dan bila mandi baik laki-laki dan perempuan saling bergantian atau antri untuk mandi dan mengambil air.

Bak mandi ini dibangun oleh gereja BNKP Lahewa, waktu ada sidang SINODE BNKP diadakan dikecamatan Lahewa, karena ada tamu-tamu yang berdatangan dari seluruh kecamatan di Nias terutama Hamba-hamba Tuhan yang datang dari seluruh gereja BNKP dan dinilai kurangnya kapasitas pada waktu itu, makanya BNKP Lahewa berinisiatif membangun bak mandi yang panjangnya tidak lebih dari 6 meter dan lebarnya tidak lebih dari 1,5 meter. Bak mandi inilah yang merupakan pemisah antara tempat mandi laki-laki dan perempuan.

Kalau kita melihat kebiasaan di Nias, ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaan yang dianut masyarakat, dimana antara perempuan dan laki-laki jangankan untuk bergandengan tangan, untuk ber-iringan berjalan saja kalau bukan suami istri atau saudara hal yang tabu di Nias, juga termasuk di Lahewa. Apalagi kalau hal ini dilakukan oleh muda-mudi, siap-siap saja untuk digosipkan yang tidak-tidak.

Setelah gempa dan hadirnya NGO di Lahewa, tempat pemandian ini memang sudah dilengkapi dengan atap, dan beberapa kamar kecil (toilet). Namun penyekat antara pemandian laki-laki dan perempuan tidak dibuatkan oleh NGO, mungkin pikirnya biarin sajalah sudah kebiasaan masyarakat disini, atau jangan-jangan NGO ingin cuci mata juga barangkali… 🙂 🙂

GUMBU, nyaris tidak ada perubahan pada kebiasaan mandinya, tidak mempunyai penyekat antara tempat mandi laki-laki dan perempuan, semuanya sama seperti yang dulu-dulu masih bisa mandi sama-sama antara laki-laki dan perempuan.

GUMBU, bila kemarau tiba tetap mengalirkan airnya, orang-orang dari berbagai penjuru kota Lahewa datang mengambil airnya, maklum di Desa sekitar Lahewa masih jauh dari jangkauan PDAM, sumur bor ala Sanyo apalagi Jet Pump masih terbilang mahal dan langka disini. Bahkan di Pasar Lahewa sendiri bisa dihitung jari rumah tangga yang memakai sumur bor, kebanyakan mengandalkan PDAM yang sekarang banyak macetnya daripada berfungsinya.

Tapi satu hal yang perlu dicatat di tempat pemandian ini nyaris tidak pernah terdengar perbuatan-perbuatan asusila, mungkin karena komunitas yang mandi kebanyakan /hampir kenal satu sama lain, atau mungkin karena kuatnya iman orang-orang Lahewa, atau harus iman (terpaksa/dipaksa) kuat bila mandi disini, sehingga tempat pemandian ini juga sering disebut GUMBU WAMATI, dan mungkin salah satu pertimbangan NGO tidak membuat penyekat karena namanya saja GUMBU WAMATI.

“Aine talau mondri ba Gumbu. He ono alawe ba ono matua, he iraono ba satua.” Ba hiza taha dödöu faböi adudu Wamatiu!

Nias-island. com – Jakarta, 26 September 2007

Disini sesuatu foto lagi, yang lebih baru:

“Gumbu wamati” – Kota Lahewa / Nias Utara  (AKS -2010)

Nias

Posted in Foto, Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

„Nias – Tempo doeloe“

ni-wi 35

Foto- Foto dari  Pulau Nias “tempo doeloe”

Kemungkinan generasi mudah zaman ini pasti ingin tahu, bagaimana cara hidup nenek-moyang  mereka tempo doeloe.  Tetapi kurang sekali dokumen-dokumen dari zaman itu.  Untunglah telah dibentuk projekt  MUSEUM PUSAKA NIAS, yang mengumpul sisa dari kebudayaan Nias asli.   Tidak ada banyak foto-foto dari Nias dahulukala.  Sedikit saja tamu-tamu dan Ethnolog  yang berkunjung di pulau Nias di tahun 1900-1930 dan orangnya sudah pandai menustel foto-foto waktu itu. Tetapi kebudyaan dan cara  hidup ciri khas nono niha di kampung-kampung masih dapat disaksikan waktu itu.  Disini dapat dilihat satu  seri foto-foto yang ditustel oleh Dr. O. Hagerup, seorang doktor dan Ethnolog dari Danmark dan satu seri oleh Dr. Paul Wirz, seorang musafir Jerman yang berkunjung di Pulau Nias waktu zaman kolonial Belanda, sewaktu Indonesia masih bernama Oostindie.

Nias 1915 von –  Dr. O.Hagerup

ni-wi 12

Nias 1925 von  –  Dr. Paul Wirz