Archive for the Foto Category

Nias, jejak budaya megalit di Nusantara

Posted in Foto, Informasi on Februari 16, 2011 by klaussturm

Walaupun  tgl. 2-06-2008 sudah dipublish for everyone oleh autor Feri Latief ,  baru sekarang kami  ketemu di net dengan foto-reportage ini tentang Pulau Nias yang benar menarik perhatian dan  semestinya diperkenalkan lebih jauh lagi. Salam dan Terima kasih kepada Sdr. Feri, yang “Matanya dijadikan mata kita“… di Blognya ” Inilah kesaksianku”

Feri Latief:   Nias, jejak  budaya megalit di Nusantara*)

Tari Perang di gerbang desa adat Bawamataluo

*) Sebagian foto-foto yang ada di sini sudah pernah di publish oleh National Geographic Indonesia dan UNESCO.

Kalau di tanah Batak ada kata Horas, maka di Nias ada kata Ya’ahowu. Fungsinya kurang lebih sama sebagai sapaan mengandung kebaikan. Ya’ahowu secara harfiah bisa diartikan: Terberkatilah anda! Di Nias jangan segan-segan untuk menyapa orang yang anda temui dengan sapaan Ya’ahowu, orang yang anda sapa akan menjawab anda dengan antusias. Kata ini jadi kalimat pembuka yang efektif jika seseorang ingin bertanya atau berdialog dengan penduduk Nias.. Disini dapat dibaca terus …. Feri Latief: Nias …

Iklan

OH PADANG

Posted in Foto, Informasi, Komentar, Lagu Pop Indonesia on November 7, 2009 by klaussturm

Oh Padang… warta berita di hari-hari ini benarlah penuh dengan kabar dan foto yang mengecutkan, penuh dengan bukti duka dan kehancuran, akibat gempa tertiba di Padang Hari Rabu yg lewat (tgl. 30-09-2009) . Tanah-bumi Indonesia tidak mau tenang – Aceh 2004, Nias 2005, Jogyakarta 2006 – nama-nama  yg telah mengandung ingatan akan gempa bumi  yang cukup horror. Dan baru ini lagi  gempa di Padang dengan kekuatan 7,6 RS. Sudah cucup kan? Pada hal tidak! Beberapa seismologist ( ahli gempa bumi) yakin, bahwa gempa ini hanya berupa pra-gempa dari sesuatu Mega-gempa yg akan pasti terjadi di masa mendatang dan sudah pasti juga akan menimbulkan tsunami raksasa. Headline dari Harian Jerman BILD-Zeitung: “Bumi mengecutkan kita!”

Gempa dari tgl 30-09-2009   berpusat   kira-kira 80 km didalam dasar laut, syukurlah terlalu dalam di dasar laut untuk menimbulkan sesuatu tsunami. Tetapi tegangan tektonis dimuka pantai barat Sumatera akan dalam waktu yg tidak jauh melepaskan diri dalam gempa dan tsunami raksasa,  meneruskan seri gempa yg  kiranya serupa dengan kejadian di Aceh 2004. Begitu keyakinan ahli-ahli seismologia. Setiap  200 tahun akan terjadi seri gempa sedemikian. Sejarah geologi dari daerah pantai barat Sumatera dapat hal itu membuktikan. Kota Padang tak berdaya utk membela diri terhadap suatu tsunami yg tinggi gelombangnya bermeter: Letaknya kota Padang hanya satu/dua meter diatas permukaan laut!

Oh Padang…. Bagaimana masa depanmu? Bagaimana manusia dapat hidup dengan prediksi sedemikian? Padang, ibukota  Minangkabau, bangga dan termasyur karena keindahan letaknya di tepi pantai Samudera Hindia,  teriring oleh gunung-gunung Bukit Barisan, terkenal karena wanitanya  cantik dan tabah hati, kenamaan  karena dapurnya yg istimewa, terkenal karena pelabuhannya Teluk Bayur yg indah dan terjamin – dan Padang juga termasyur karena lagu-lagunya. Salah satu lagu yg terkenal di seluruh Indonesia adalah: “Selamat tinggal Teluk Bayur” dinyanikan oleh Ernie Djohan.

Dan hari ini saya telah bertemu di Harian “BILD” dengan foto ini …..

padang-bass-13571926-mfbq,templateId=renderScaled,property=Bild,height=349

….  seorang anak muda  yg duduk tertinggal di tengah halaman kampungnya yg kehancuran, tangannya memegang gitarnya  –  melihat foto ini dikena sekali hati saya…. lagu apa yg mau dinyanyikan? Apakah mulut masih bisa bersuara, kalau hati sudah tertumpul oleh rasa kesedihan yg putus asa? Memang kadang- kadang terjadinya begitu. Tetapi itu pengalaman manusia juga, bahwa sedang menyanyikan lagu manusia dialaminya daya yg mempesona – trauma bisa sembuh! Rasa duka yang bisu diberi nama dan kesedihan  diolah menjadi nada yang dapat didengar, memungkinkan pengertian dan rasa simpati.

Teringat kepada saya lagu pop Indonesia yg lama asalnya thn 60an – memang agar sentimental sekali – suatu lagu  yg diciptakan oleh pahitnya perantauan dan kerinduan akan halaman kampung dan akan masa yg telah kehilangan: “Oh ibuku, hatiku pilu seorang diri”  dinyanyikan oleh Titiek Sandhora.

Nias

Posted in Foto, Informasi, Komentar on November 7, 2009 by klaussturm

„Nias – Tempo doeloe“

ni-wi 35

Foto- Foto dari  Pulau Nias “tempo doeloe”

Kemungkinan generasi mudah zaman ini pasti ingin tahu, bagaimana cara hidup nenek-moyang  mereka tempo doeloe.  Tetapi kurang sekali dokumen-dokumen dari zaman itu.  Untunglah telah dibentuk projekt  MUSEUM PUSAKA NIAS, yang mengumpul sisa dari kebudayaan Nias asli.   Tidak ada banyak foto-foto dari Nias dahulukala.  Sedikit saja tamu-tamu dan Ethnolog  yang berkunjung di pulau Nias di tahun 1900-1930 dan orangnya sudah pandai menustel foto-foto waktu itu. Tetapi kebudyaan dan cara  hidup ciri khas nono niha di kampung-kampung masih dapat disaksikan waktu itu.  Disini dapat dilihat satu  seri foto-foto yang ditustel oleh Dr. O. Hagerup, seorang doktor dan Ethnolog dari Danmark dan satu seri oleh Dr. Paul Wirz, seorang musafir Jerman yang berkunjung di Pulau Nias waktu zaman kolonial Belanda, sewaktu Indonesia masih bernama Oostindie.

Nias 1915 von –  Dr. O.Hagerup

ni-wi 12

Nias 1925 von  –  Dr. Paul Wirz