Archive for the Musik Category

Seketiga mati lampu, musik mulai hidup

Posted in Informasi, Musik with tags , , , , on November 11, 2014 by klaussturm

http://thejakartaglobe.beritasatu.com/features/lights-go-thats-music-starts/                                                                                        __________________________________________________________________

Menikuti  jejak perjalanan musikalis oleh artis Reggae Jerman-Indonesia Sebastian Sturm                                          by Katrin Figge

SebastianSturmExileAirline_1_LutzBassPhotography.jpg_WEB                  

Sering kata orang, dimana melekat hatimu, disitu rumah halamanmu  dan itu kiranya benar buat  Sebastian Sturm, seorang artis Reggae.

„Sebagai seniman musik, rumah dan halaman berantah dan juga dimana-mana saja“ katanya sambil tertawa. „Tetapi biasanya saja katakan, dimana isteri dan anak saya, disitu halamanku. Tetapi istilah halaman adalah sesuatu istilah  yang selalu saya bingung.“

Sturm lahir tahun 1980 sebagai anak laki-laki kedua oleh ayahnya berbangsa Jerman dan ibunya berbangsa Indonesia dan ia dibesarkan di Eschweiler, sesuatu kota kecil dekat kota Aachen.

„Ibu saya berasal dari Pulau Nias, lebih tepatnya dari Lahewa, sesuatu kota pelabuhan kecil di ujung utara Pulau Nias“ katanya. „Disitupun ibu saya di tahun 1975 pertama kali bertemu  dengan ayah saya, yang waktu itu bertugas di dinas gerejani. Tahun 1977 mereka berdua berpindah ke Jerman dan menikah disitu.“

Sturm sejak itu hanya tiga kali pernah berkunjung di Indonesia dan akhir kalinya waktu umurnya 13 tahun . „Akar-akarku  Indonesia masih merupakan sesuatu ‘mystery’ bagi saya” ia bertambah. Tetapi ada sesuatu hal yang jelas sekali diingatnya sewaktu tripnya terakhir ke Nias – pulau itu di pantai barat Sumatera – utk pertama kali dipegangnya disitu  sesuatu  guitar.

“ Waktu itu, kira-kira jam 7 malam aliran listrik dimatikan  dan kaum muda mulai berkumpul dimuka rumah mereka dan mulai main guitar sambil bernyanyi, hanya diterangi oleh lampu-lampu minyak – begitupun dimuka rumah kakek/nenek saya.”  Sturm teringat.

“Sampai hari ini saya tidak lupakan suasana yang indah pada malam-malam tsb, yang dorongin saya untuk belajar main guitar seperti mereka. Setelah kembali dirumah terus saya belajar cord-cord pertama – ditolong oleh abang saya.”

Dua tahun sesudahnya Sturm mulai main dalam band Punk  –  waktu itu di dekade 1990an Seattle Sound dan Grunge’Bands seperti Nirvana, Pearl Jam, Alice in Chains dan Soundgarden merebutkan perhatian besar di music-scene. “Saya boleh dianggap sebagai anak tahun-tahun 90-an dan saya telah menjadi penganut besar oleh Band Nirvana”, kata Sturm.

“Dalam lingkunan teman-teman waktu itu, semua mendengar lagu-lagu grup-grup seperti NOFX,  Bad Religion and Sublime. Pada hal, waktu itu sudah kian saya tahu, siapa Bob Marley, tetapi lagu-lagunya yang terkenal sekali, seperti ‘No woman no cry’ atau ‘Redemption song’ sama sekali tidak ada arti bagi saya.”

Biar bagaimanapun, tahun 1999 ditemuinya songs oleh the old Wailors dan asyik tertarik oleh nyanyian mereka bersuara tiga oleh Marley, Tosh dan Bunny Wailer. Lagu-lagu seperti “Simmer Down” dan “Mellow Mood”, kata Sturm, telah menjadi penemuan, yang membuka mata dan telinganya buat dunia Reggae.

“Dan pada dasarnya saya sangat menyukai amanatnya positiv: cinta-kasih lebih kuat daripada benci!” Sturm menambah. “Buat saya sebagai artist bahasa musikalis membuka dunia baru  dan saya mulai  mengarang dengan guitar lagu-lagu reggae-skank.”

Waktu itu juga, dicarinya  di kota Aachen kawan-kawan  serasa yang ingin ikut membentuk band reggae dengan dia sebagai leadsinger. Setelah ditemukan beberapa kawan-kawan, lahir bandnya pertama yang bernama “Jogit Beat”.

“Kami mencoba main  1960-an Ska, Rocksteady dan Rootsreggae” kata Sturm. “Roots Reggae sampai hari ini dalam musik Reggae masih dianggap sebagai “ujian dan ukuran rajani”. Untuk seorang yang latar belakangnya Punk and Rock, dialami perubahan besar  kalau main jenis musik yang lebih slow dan sulit. Boleh dikatakan, bahwa waktu itu telah  saya mulai belajar music Reaggae dan sampai hari ini saya belum tamat.” Sturm menambah.

“Pemindahan saya pada Reggae merubah hidup saya lengkap.  Sikap terhadap gaya hidup berganti lengkap dan semakin lama  bertambah juga perhatian para pendengar. The band was cool and the shows were a lot of fun!”

Tahun 2006 Sturm teken kontrak pertama dengan label Rubin Rockers dan menerbitkan album pertama “This change is nice” . Bersama band “Jin Jin” ia keliling tour, pun diluar perbatasan Jerman.

Sesudah album kedua “One Moment in Peace”  Sturm dan Jin Jin Band bercerai dan menuju perjalanan yang berbeda dan Sturm membentuk bandnya baru yang  bernama “Exile Airline”.  Bersama bandnya yang baru, Sturm menerbitkan album ketiga dan keempat: “Get Up Get Going” dan “A Grand Day Out”.

“Album terakhir yang saya terbitkan dengan Exile Airline adalah proyek bersama dengan Jamaican producer Steven Stuart“ – Harry J.Studio di Kingston, Jamaica, dimana pun Bob Marley telah direkam –  “and Samuel Clayton Junior, dan untuk itu saya terbang ke Jamaica dengan seluruh Band. Bagi kami semua sesuatu mimpi telah menjadi kenyataan” Sturm teringat.

Selama tahun ini band sedang mengejar beberapa gigs keliling Eropa dan menyiapkan rekaman  sesuatu live session, yang telah direkam di Harry J Studio yang akan diterbitkan di tahun 2015.

Kalau Sturm dan  para anggota band terjun dalam proses kreatif, katanya, setiap anggota memberikan outputnya yang sangat besar, sehingga mengarang lagu-lagu selalu menjadi proses yang intensive dan bersemarak.

“Biasanya saya bawak sesuatu ide utk lagu baru ke studio, dan sesudah itu kami melakukan eksperiment bersama dengan beberapa aransemen sampai lagunya siap dan groovy” Sturm menerangkan.“Karena kami semua mempuniai latar belakang musikalis yang berbeda dan kami ingin juga menggabungkan styles yang berbeda.”

Walaupun sebenarnya diinginnya, Sturm kurang berkenalan dengan tanah air ibunya. Tetapi untuk suatu hal dia yakin: “Musik dalam darah saya berasal dari duabelah pihak bapak dan mama. Umpamanya Kakak Fati, sepupu saya dari pihak mama telah menjadi seorang biduanita yang sukses  dengan bandnya di Yogyakarta untuk sebuah longe waktu.“ Katanya.

Mengutip teks Marleys „Buffalo soldier” yang bernyanyi: “Kalau kau tahu sejarahmu, engkau tahu juga darimana kau berasal“,  begitu Sturm ingin sekali mengetahui lebih banyak mengenai akar-akarnya Indonesia dan berharap dapat berkunjung di Nias di tahun depan.

„Sering saya tanya diri, bagaimana hidup saya sekarang , seandainya saya dibesarkan di Nias” katanya. “Saya harap, setelah saya kali ini berkunjung di Indonesia, saya dapat lebih tahu mengenai diri saya sendiri. Lebih baik terlambat daripada takkan pernah!”

Ia juga mimpi boleh datang di Indonesia utk tour dengan seluruh bandnya.“Kalau di masa mendatang ada kesempatan apapun utk realisasinya, saya sangat bahagia”  katanya.

On YouTube, ditambahnya, diperhatikannya video-clips oleh local- reggae artis  seperti Toni Q, Joni Agung dan Steven & The Coconut Treez. Dan via e-mail ia berkontak juga dengan  Rhesa Stromp.

„Sangat bagus umpamanya kalau dapat bertemu muka dengan mereka dan barangkali kerja sama untuk beberapa proyek“ katanya. „Untuk album-album terakhir saya sangat senang sudah dapat kerja  bersama  dengan Harrison Stafford oleh band Groundation, atau dengan penyanyi seperti Kiddus dan Albert Minott and The Jolly Boys.  Saya sangat ingin utk merekam satu lagu dengan Clinton Fearon, yang menurut pendapat saya, pengarang lagu Roots-Reggae yang terbaik di jaman sekarang . Akan tetapi seandainya saya didapat kemungkinan utk tour di Indonesia, sangat bermafa’at dan seru bagi saya utk bertemu live dengan Reggae Bands Indonesia”

by Katrin Figge  (The Jakarta Globe – 1 November 2014 )

(Terjemahan AKS)

Lagu Nias Nostalgia di YouTube

Posted in Lagu Nias, Musik, YouTube on November 15, 2009 by klaussturm

Lagu-lagu Nias Nostalgia sebagai file-mp3 dapat didengar dan didownload  on My Website. Sebagian dari lagu-lagu itu juga tersedia sebagai  Music-video di portal YouTube (“enpluskom”) Silahkan buka  link lagu-lagu dibawah:

Band SIMAENARIA Lahewa

Meföna me ide-idedo

Hadia guna gana’a

Sogai gitö

Bulu lehu

Bute gasagore

Tenga börö sa ndra’aga

Ba nakhi

Toto sowöhö

Hewisa (Asad. Bu’ulölö)

No abu sibai dödögu (Asad. Bu’ulölö)

Kelompok lain

Tanö niha somasido

He ga’a

Mangawuliga

He talifusö sofanö (Bate’e Brothers)

Ba dalu rato (Bate’e Brothers)

Ngarö-Ngarö dödö (Avore Nias)

Ama Gadi’a (Avore Nias)

Sikhö soyo (Trio Trivali)

Inagu omasiögu (A.Ferry)

Ulau moloyo (A.Ferry)

OH PADANG

Posted in Foto, Informasi, Komentar, Lagu Pop Indonesia on November 7, 2009 by klaussturm

Oh Padang… warta berita di hari-hari ini benarlah penuh dengan kabar dan foto yang mengecutkan, penuh dengan bukti duka dan kehancuran, akibat gempa tertiba di Padang Hari Rabu yg lewat (tgl. 30-09-2009) . Tanah-bumi Indonesia tidak mau tenang – Aceh 2004, Nias 2005, Jogyakarta 2006 – nama-nama  yg telah mengandung ingatan akan gempa bumi  yang cukup horror. Dan baru ini lagi  gempa di Padang dengan kekuatan 7,6 RS. Sudah cucup kan? Pada hal tidak! Beberapa seismologist ( ahli gempa bumi) yakin, bahwa gempa ini hanya berupa pra-gempa dari sesuatu Mega-gempa yg akan pasti terjadi di masa mendatang dan sudah pasti juga akan menimbulkan tsunami raksasa. Headline dari Harian Jerman BILD-Zeitung: “Bumi mengecutkan kita!”

Gempa dari tgl 30-09-2009   berpusat   kira-kira 80 km didalam dasar laut, syukurlah terlalu dalam di dasar laut untuk menimbulkan sesuatu tsunami. Tetapi tegangan tektonis dimuka pantai barat Sumatera akan dalam waktu yg tidak jauh melepaskan diri dalam gempa dan tsunami raksasa,  meneruskan seri gempa yg  kiranya serupa dengan kejadian di Aceh 2004. Begitu keyakinan ahli-ahli seismologia. Setiap  200 tahun akan terjadi seri gempa sedemikian. Sejarah geologi dari daerah pantai barat Sumatera dapat hal itu membuktikan. Kota Padang tak berdaya utk membela diri terhadap suatu tsunami yg tinggi gelombangnya bermeter: Letaknya kota Padang hanya satu/dua meter diatas permukaan laut!

Oh Padang…. Bagaimana masa depanmu? Bagaimana manusia dapat hidup dengan prediksi sedemikian? Padang, ibukota  Minangkabau, bangga dan termasyur karena keindahan letaknya di tepi pantai Samudera Hindia,  teriring oleh gunung-gunung Bukit Barisan, terkenal karena wanitanya  cantik dan tabah hati, kenamaan  karena dapurnya yg istimewa, terkenal karena pelabuhannya Teluk Bayur yg indah dan terjamin – dan Padang juga termasyur karena lagu-lagunya. Salah satu lagu yg terkenal di seluruh Indonesia adalah: “Selamat tinggal Teluk Bayur” dinyanikan oleh Ernie Djohan.

Dan hari ini saya telah bertemu di Harian “BILD” dengan foto ini …..

padang-bass-13571926-mfbq,templateId=renderScaled,property=Bild,height=349

….  seorang anak muda  yg duduk tertinggal di tengah halaman kampungnya yg kehancuran, tangannya memegang gitarnya  –  melihat foto ini dikena sekali hati saya…. lagu apa yg mau dinyanyikan? Apakah mulut masih bisa bersuara, kalau hati sudah tertumpul oleh rasa kesedihan yg putus asa? Memang kadang- kadang terjadinya begitu. Tetapi itu pengalaman manusia juga, bahwa sedang menyanyikan lagu manusia dialaminya daya yg mempesona – trauma bisa sembuh! Rasa duka yang bisu diberi nama dan kesedihan  diolah menjadi nada yang dapat didengar, memungkinkan pengertian dan rasa simpati.

Teringat kepada saya lagu pop Indonesia yg lama asalnya thn 60an – memang agar sentimental sekali – suatu lagu  yg diciptakan oleh pahitnya perantauan dan kerinduan akan halaman kampung dan akan masa yg telah kehilangan: “Oh ibuku, hatiku pilu seorang diri”  dinyanyikan oleh Titiek Sandhora.

LAGU NIAS – NOSTALGIA

Posted in Informasi, Lagu Nias, Musik, YouTube on November 7, 2009 by klaussturm
"The Teluk-Dalam Beach-Boys" (1970)
“The Teluk-Dalam Beach-Boys” (di Lahewa 1970)

Lagu-lagu, penyanyi dan pemain-pemain gitar yang bermutu terdapat di Nias sudah jauh sebelum tahun 1970 – benar orang Nias bersemangat sekali untuk bernyanyi. Kita terharum mendengar lagu TANÖ NIHA, the inofficial Hymne of Nias. Mengingat juga tradisi Koor di gereja ataupun  tradisi tarian MAENA kalau ada pesta di desa-desa. Terkenal juga misalnya waktu itu kelompok musisi seperti Band “SIRAO” yang populer sekitar G.Sitoli. Adapun waktu itu pencipta dan pengarang lagu-lagu populer seperti dari Nias-Selatan  Ama Ferry Dakhi (alm) dan Pak Bamböwo Laiya, Pak Yas. Harefa  dll. Tetapi baru sejak tahun 1969 terdapat di Nias kelompok-Musik, yang naik panggung dengan alat-band elektronis seperti sudah biasa di kota-kota Indonesia lain.

Mengapa begitu? Salah satu alasan ialah bahwa waktu itu  thn 1970 sama sekali tidak ada persediaan elektricity di pulau Nias- terkecuali di ibukota Gunung-Sitoli, di toko-toko besar atau perusahaan  . Alasan kedua ialah  Musik-Pop Indonesia yg perkembangannya dan siarannya melalui Radio sekitar tahun 1970 juga sampai di pulau Nias dan memperkenalkan lagu-lagu dari kelompok Musik-Pop seperti misalnya  KOES-PLUS – the “Beatles of Indonesia”.   Memang juga dikenal dan disayangi lagu-lagu oleh Beatles, Rolling Stones, Deep Purple dan lain-lain Heroes of Rock & Pop internasional. Tetapi KOES-PLUS bernyanyi dalam bahasa Indonesia! Itunyo!

Seperti THE BEATLES,  pun KOES-PLUS memakai alat  gitar yg diamplified secara elektonis serta keyboard ditambah drums.  Mereka nyanyi  perihal cinta, asmara dan kekecewaan kaum muda-mudi generasi tahun 70-an ff. Benar nadanya mengajak! Dalam jangka waktu beberapa tahun saja berkembang suatu budaya Musik-Pop ciri-khas Indonesia yang luarbiasa dan menampilkan Bands seperti  THE MERCY’S –  PANBERS –  D’LLOYDBIMBO&IJN dls dan Stars seperti  Charles HutagalungBob Tutupoli –  Tetty Kadi –  Emilia Contessa, Ernie Johan dl, yang masih dikenal sampai hari ini di seluruh Indonesia dan lagu-lagu  mereka masih dinyanyikan  di jaman sekarang.

Group Musik Pop-Nias pertama, yang memakai alat elektronis di panggung, adalah „The Teluk-Dalam Beachboys“  yang dibentuk tahun 1969 di Kota Teluk-Dalam/ Nias-Selatan. Mereka cover  setepat mungkin lagu-lagu Top dari Indonesia dan dunia internasional. Tetapi sudah waktu itu misalnya  dari Beatles–Hit „Obladi-Oblada“ telah menjadi lagu „Sökhi li ziliwi gowi“ . Di luar itu dipentaskan lagu-lagu populer  yang dinyanyikan di desa-desa  pulau Nias seperti „Katitira langi“ atau „Bowo madala“ dls. Tetapi sayangnya sama sekali tidak ada rekaman dari Band itu.

Lagu-lagu yang direkam atas kaset baru muncul di tahun 1973 dari Band SIMAENARIA LAHEWA, suatu Band yang terbentuk 1972 di kota Lahewa/Nias Utara. ( Info mengenai Simaenaria lihat: Link ini) Waktu itu mulai terjualnya di Nias recorder-kaset (Made in Japan) yang agak murah sedikit, sehingga rekaman-rekaman Band Simaenaria bisa terdengar di seluruh pulau Nias. Darisitu mulai perkembangan pesat oleh Musik-Pop-Nias: kelompok seperti MARDIANA, BATE’E BROTHERS dan berbagai group lain mengumumkan lagu-lagu mereka di kaset-kaset musik, yang direkam dengan teknik-rekamam yang sangat sederhana. Keistimewaan  adalah bahwa lagu-lagu itu merupai  ciptaan asli mereka sendiri dan bukan hanya lagu tercover asal dunia musik dari luar Nias.

Awal dekade tahun 1980-an Musik-Pop-Nias telah mengalami suatu lompatan kwalitatip, dimana pemusik-pemusik Nias di Jakarta merekam lagu-lagu mereka di studio professional seperti AVORE NIAS atau  TRIO TRIVALI . Sejak itu terus menerus muncul produksi  Musik-Pop-Nias yang sampai hari ini disiarkan melalui kaset, CD atau Internet.

Tetapi semua kelompok musik dari tahun 70-an yang lagu-lagunya hanya terekam di pulau Nias atas kaset-kaset biasa, telah dilanda problema iklim tropis: kaset-kaset sudah berkarat dan tidak dapat diputar lagi, sehingga dokumen musik tsb kiranya tidak terdapat lagi di Nias. Hal ini sangat disesalkan  oleh  semua fan-fan musik Pop-Nias tempo dulu. Karena itu halaman blog ini: Musik-Pop-Nias dari tahun 1970-an dari tiga kaset yang masih terdapat di mediatek kami. Sayangnya di dua kaset nama Band dan pencipta tidak tercatat.  Biarpun begitu: Lagu-Nias – Nostalgia. Here we are!

BAND SIMAENARIA LAHEWA

Posted in Informasi, Lagu Nias, Musik on November 7, 2009 by klaussturm

kopie_von_sim_1973

Band Simaenaria Lahewa

Link diatas memberi  info-info, lagu-lagu dan foto-foto dari Band Simaenaria, yang pada masa   thn 1972-1976  kelompok musik yang paling populer di Pulau Nias. Karena dari album-album yang  direkam dulu hanya  beberapa kaset original tertinggal di tangan kami, biar melalui situs ini diberikan kesempatan untuk didengar kembali lagu-lagu tempo dulu.  Berbagai lagu dari Band tsb bisa juga didengar di portal YOUTUBE  a.n. peserta “klaus sturm“…..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.