LAHEWA – NIAS UTARA

Gumbu “Wamati”,

Mata Air Jernih  yang Tidak Pernah Kering di Kota Lahewa

oleh Yulinius Hulu

Anda pernah ke Lahewa? Lahewa adalah sebuah ibu Kota Kecamatan yang terletak diujung paling Utara Pulau Nias sejauh 80 km dari kota Kabupaten Nias, Gunungsitoli. Kecamatan ini merupakan salah satu kota kecamatan yang terkemuka dan ramai untuk ukuranPulau Nias. Ada yang unik di kota kecamatan ini yaitu tempat pemandian umumnya yang terletak tidak jauh dari Gereja BNKP, atau sekitar setengah kilometer dari kantor kecamatan.

Mungkin kalau anda adalah orang Lahewa dan bermukim disekitar kota Lahewa anda pasti pernah atau sering mandi ditempat ini. Atau kalau anda bukan orang Lahewa dan ada kesempatan berkunjung ke Lahewa, jangan lewatkan mandi ditempat ini. Nama pemandian ini adalah Gumbu, begitulah masyarakat kota Lahewa menyebutkannya.

Dibangun pada zaman pemerintah Belanda tepatnya tgl, 21 Januari 1933 Oleh F.Poluan. Jernih dan tidak pernah kering seakan tidak pernah bosan dan lelahnya memberikan airnya bagi siapa saja yang datang ditempat ini, entah itu mandi, cuci, bahkan sekedar buang hajat sekalipun.

Kala pagi hari dan sore hari tempat ini dipenuhi oleh anak-anak sekolah, pegawai serta orang yang akan beraktifitas sepanjang hari, dan mengakhri aktifitas disiang atau sore harinya, maklum inilah satu-satunya pemandian umum yang masih tersedia sampai saat ini di kecamatan Lahewa. Memang dulu ada satu lagi tempat pemandian umum di dekat pasar Lahewa yaitu HELE, terletak di belakang Puskesmas Lahewa namun pemandian ini sudah tidak ada lagi, hancur akibat gempa yang melanda Nias beberapa tahun yang lalu.

GUMBU, begitulah orang-orang Lahewa menyebutkan tempat pemandian ini. Gumbu dalam bahasa Nias artinya mata air, nah yang uniknya Gumbu di Lahewa ini antara tempat pemandian Laki-laki dan Perempuan nyaris tidak ada penyekat pemisah dan benar-benar terbuka sama sekali. Ehm…. Jangan heran kalau disini banyak terlihat cewek-cewek hanya berbalut sarung sampai sebatas dada, dan laki-laki bercelana pendek campur baur mandi disini. Satu-satunya penyekat adalah bak mandinya yang tidak lebih dari semeter tingginya. Sebelah kanan adalah tempat mandi untuk perempuan dan sebelah kirinya adalah tempat mandi untuk laki-laki.

Tidak ada seorangpun yang tahu kenapa tempat mandi ini begitu terbuka, malah sebelum ada bak mandi (ini baru dibangun oleh gereja BNKP sekitar tahun 1980), dimana dulunya hanya ada satu pancuran (hele) air yang keluar dari kaki pegunungan. Dan bila mandi baik laki-laki dan perempuan saling bergantian atau antri untuk mandi dan mengambil air.

Bak mandi ini dibangun oleh gereja BNKP Lahewa, waktu ada sidang SINODE BNKP diadakan dikecamatan Lahewa, karena ada tamu-tamu yang berdatangan dari seluruh kecamatan di Nias terutama Hamba-hamba Tuhan yang datang dari seluruh gereja BNKP dan dinilai kurangnya kapasitas pada waktu itu, makanya BNKP Lahewa berinisiatif membangun bak mandi yang panjangnya tidak lebih dari 6 meter dan lebarnya tidak lebih dari 1,5 meter. Bak mandi inilah yang merupakan pemisah antara tempat mandi laki-laki dan perempuan.

Kalau kita melihat kebiasaan di Nias, ini sangat bertolak belakang dengan kebiasaan yang dianut masyarakat, dimana antara perempuan dan laki-laki jangankan untuk bergandengan tangan, untuk ber-iringan berjalan saja kalau bukan suami istri atau saudara hal yang tabu di Nias, juga termasuk di Lahewa. Apalagi kalau hal ini dilakukan oleh muda-mudi, siap-siap saja untuk digosipkan yang tidak-tidak.

Setelah gempa dan hadirnya NGO di Lahewa, tempat pemandian ini memang sudah dilengkapi dengan atap, dan beberapa kamar kecil (toilet). Namun penyekat antara pemandian laki-laki dan perempuan tidak dibuatkan oleh NGO, mungkin pikirnya biarin sajalah sudah kebiasaan masyarakat disini, atau jangan-jangan NGO ingin cuci mata juga barangkali… :-) :-)

GUMBU, nyaris tidak ada perubahan pada kebiasaan mandinya, tidak mempunyai penyekat antara tempat mandi laki-laki dan perempuan, semuanya sama seperti yang dulu-dulu masih bisa mandi sama-sama antara laki-laki dan perempuan.

GUMBU, bila kemarau tiba tetap mengalirkan airnya, orang-orang dari berbagai penjuru kota Lahewa datang mengambil airnya, maklum di Desa sekitar Lahewa masih jauh dari jangkauan PDAM, sumur bor ala Sanyo apalagi Jet Pump masih terbilang mahal dan langka disini. Bahkan di Pasar Lahewa sendiri bisa dihitung jari rumah tangga yang memakai sumur bor, kebanyakan mengandalkan PDAM yang sekarang banyak macetnya daripada berfungsinya.

Tapi satu hal yang perlu dicatat di tempat pemandian ini nyaris tidak pernah terdengar perbuatan-perbuatan asusila, mungkin karena komunitas yang mandi kebanyakan /hampir kenal satu sama lain, atau mungkin karena kuatnya iman orang-orang Lahewa, atau harus iman (terpaksa/dipaksa) kuat bila mandi disini, sehingga tempat pemandian ini juga sering disebut GUMBU WAMATI, dan mungkin salah satu pertimbangan NGO tidak membuat penyekat karena namanya saja GUMBU WAMATI.

“Aine talau mondri ba Gumbu. He ono alawe ba ono matua, he iraono ba satua.” Ba hiza taha dödöu faböi adudu Wamatiu!

Nias-island. com – Jakarta, 26 September 2007

About these ads

23 Tanggapan to “LAHEWA – NIAS UTARA”

  1. saya masyarakat lahewa tepatnya jl.baru
    situasi gumbu sekarang sudah lebih baik tapi tdk terawat.wcnya tdk bisa di pakai lagi.ini akibat tdk sadarnya masyarakat.
    Pekembangan kota lahewa sudah sangat maju,dimana-mana rumah makan sudah menjamur.itulah perkembangan kota lahewa.

  2. Feber Gulo Says:

    Biarlah kebiasaan mandi yg bersamaan anatara laki2 da perempuan tanpa sekat bisa menjadi ciri dan budaya yg membanggakan masyarakt Lahewa. Jika ada yg menanggapinya dgn konotasi negatif biarlah itu menjadi urusan pribadinya. Yg penting mari kita masyarakat Lahewa kita rawat dan pelihara GUMBU WAMATI ini, baik secara fisik maupun secara moral, sehingga menjadi ciri khas unik yg tiada duanya di dunia ini. Semoga ini bisa dipopulerkan menyamai hombo batu dr Nisel. Jayalah Lahewa…

    Salam dari kami anak rantau
    Yaahowu….

    Feber Gulo
    Ranatau Prapat

  3. rahmat/ olo Says:

    saudara” saya yg ada d lhwa. ama herti lase wakil camat lhwa thn 1998, klo skrng gk tau pa masih tugas d lahewa pa gk. klo ada yg knl tlng d sampai kan slm ku ini ma pak lase A:hERTi Lase Nma sya d sana dulu. panggilan na olo. nama asli dalizanolo lase. nma ayah ama sewi lase. saudara perempuan d sana meliba. ba dure loto.

  4. Jurisman Harefa Says:

    Ya’ahowu fefu banuada,….
    Semoga kedepan ‘ Gumbu Wauri ” bisa lebih diperhatikan lagi. Terutama untuk pemisah antara tempat mandi Pria/Wanita.
    Buat Olo…. Abang A.Herti lase sekarang di Gunung Sitoli. Salamnya akan kami sampaikan.
    Salam BONNE

  5. Saya Orang lahewa,.moga kota tercinta ini smakin maju, baik dr segi pendidikan, politik, ekonomi dan tmpat mpertahankan nilai2 budaya yg ada sbg ciri khas dan asset utk kdepan, tp dalam konteks hrus dinamis dan tdk ketinggalan zaman..Yahowu

  6. Selatieli Zendrato Says:

    Agar Pemerintah dan Masyarakat setempat bekerjasama dalam memelihara dan melestarikan Gumbu tersebut, Agar Gumbu tersebut dapat di pergunakan generasi penerus yang berikutnya.
    Smoga Gumbu tersebut menjadi Objek wisata kedepan..

    Salam dari Kami Mahasiswa Nias dari UNIKA

    Yaahowu Fefu…!!!

    Selatieli Zendrato
    Medan

  7. Nfasa lase Says:

    Eda ina ifo. Yaahowu ff… Mari lah kt dukung br sm. Jgn hanya komentr saja. Saohagele.

  8. purniaman harefa Says:

    areu ita mondi ba gumbu dao sae le ?

  9. Fiteli Gulo Says:

    Pesan kepada Masyarakat Lahewa , supaya mata air/Umbu yang dekat Gereja BNKP , sebaiknya di tata Supaya bisa menjadi arena pariwisata. Jaga Lahewa baik-baik ya , saya dari Kare Lahewa Nias , merasa sangat Bangga dengan aksesori yang dimiliki Lahewa .

    Tinggal di rantau orang (Kota Bandung) memang tidak seenak tinggal di kampung sendiri .
    By : A.Ferni Gulo

  10. Eman zalukhu Says:

    Agar Lahewa is the best…masyarakatnya harus duluan the best..Ok..

  11. Selalu terkenang dihati klo mandi di GUMBU,
    biasanya klo habis kerja bakti dl waktu sekolah di SD BNKP Tahun 87an langsung meluncur atau mandi di Gumbu…semoga sarana dan prasarananya terjaga dengan baik….Ingatan Zalukhu (simpang afulu)_IGOZ

  12. Ingati Lase ( Iraonolase) Says:

    Terkenang masa dulu waktu masih SMA kalo pagi subuh sering mandi di Gumbu, dingin dingin gimana gitu?

  13. Budaya dan kebersamaan sbgai kita orang lahewa marilah di tingkatkan tapi marilah kita kikis hal2 yang tidak baik yang saling menjatuhkan yang sampai saat ini masih terlekat kuat di pribadi masyarakat kita.
    LAHEWA IS THE BEST………..

  14. wistoriuw waruwu Says:

    saya senang dngan lahewa. semoga kota kita semakin maju dan bebas sari korupsi..infranstruktur kota kita mohon dipikirkan kedepannya..

  15. purwanto Says:

    sepertinya lahewa tempat yg nyaman, aman dan tertib, itu terbukti tidak ada nya aparat keamanan yg berseliweran, seperti polisi..tidak tampak..oohhh damainya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: